PEMBOHONGAN MEDIA – KAPITEN AHMAD PATTIMURA

 

السلام عليكم . بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله

الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

 

Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lessy, tetapi dia lebih dikenal dengan Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minor atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia umumnya.

 

Nunu oli

Nunu seli

Nunu karipatu

Patue karinunu

 

(Saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah beringin besar dan

setiap beringin besar akan tumbang tapi beringin lain akan menggantinya

(demikian pula) saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar

dan setiap batu besar akan terguling tapi batu lain akan menggantinya).

 

Ucapan-ucapan puitis yang penuh tamsil itu diucapkan oleh Kapitan Ahmad Lessy atau dikenal dengan sebutan Pattimura, pahlawan dari Maluku. Saat itu, 16 Desember 1817, tali hukuman gantung telah terlilit di lehernya. Dari ucapan-ucapannya, tampak bahwa Ahmad Lessy seorang patriot yang berjiwa besar. Dia tidak takut ancaman maut.

 

Wataknya teguh, memiliki kepribadian dan harga diri di hadapan musuh. Ahmad Lessy juga tampak optimis. Namun keberanian dan patriotisme Pattimura itu terdistorsi oleh penulisan sejarah versi pemerintah. M Sapija, sejarawan yang pertama kali menulis buku tentang Pattimura, mengartikan ucapan di ujung maut itu dengan “Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”. Namun menurut M Nour Tawainella, juga seorang sejarawan, penafsiran Sapija itu tidak pas karena warna tata bahasa Indonesianya terlalu modern dan berbeda dengan konteks budaya zaman itu.

 

Di bagian lain, Sapija menafsirkan, “Selamat tinggal saudara-saudara”, atau “Selamat tinggal tuang-tuang”. Inipun disanggah Tawainella. Sebab, ucapan seperti itu bukanlah tipikal Pattimura yang patriotik dan optimis. Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lessy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.

 

Muslim Taat

 

Ahmad Lessy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lessy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

 

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.

 

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

 

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

 

Jadi asal nama Pattimura dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sedangkan Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lessy. Dan Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku.

 

Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

 

Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan Maluku.

 

Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”

 

 

 

Klik pada gambar agar gambar lebih besar untuk disebarkan … ^^,

Sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, dari sudut pandang antropologi juga kurang meyakinkan. Misalnya dalam melukiskan proses terjadi atau timbulnya seorang kapitan. Menurut Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak.

 

Leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

 

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

 

Perjuangan Kapitan Ahmad Lessy Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie).

 

Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

 

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lessy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.

 

Perlawanan rakyat di bawah komando Kapitan Ahmad Lessy itu terekam dalam tradisi lisan Maluku yang dikenal dengan petatah-petitih. Tradisi lisan ini justru lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada data tertulis dari Belanda yang cenderung menyudutkan pahlawan Indonesia. Di antara petatah-petitih itu adalah sebagai berikut:

 

Yami Patasiwa Yami Patalima

Yami Yama’a Kapitan Mat Lessy

Matulu lalau hato Sapambuine

Ma Parang kua Kompania

Yami yama’a Kapitan Mat Lessy

Isa Nusa messe

Hario,Hario,Manu rusi’a yare uleu uleu ‘o

Manu yasamma yare uleu-uleu ‘o

Talano utala yare uleu-uleu ‘o

Melano lette tuttua murine

Yami malawan sua mena miyo

Yami malawan sua muri neyo

 

(Kami PatasiwaKami Patalima

Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lessy

Semua turun ke kota SaparuaBerperang dengan Kompeni Belanda

Kami semua dipimpin Kapitan Ahmad Lessy

Menjaga dan mempertahankan

Semua pulau-pulau iniTapi pemimpin sudah dibawa ditangkap

Mari pulang semuaKe kampung halaman masing-masing

Burung-burung garuda (laskar-laskar Hualoy)

Sudah pulang-sudah pulangBurung-burung talang

(laskar-laskar sekutu pulau-pulau)

Sudah pulang-sudah pulangKe kampung halaman mereka

Di balik Nunusaku Kami sudah perang dengan Belanda

Mengepung mereka dari depan

Mengepung mereka dari belakang

Kami sudah perang dengan Belanda

Memukul mereka dari depan

Memukul mereka dari belakang)

 

Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lessy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lessy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.

 

Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lessy atau Mat Lessy. Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat. Dalam film Once Upon A Time in China, tokoh kharismatik ini diperankan aktor ternama Jet Li.



Indonesia tidak pernah dimerdekakan dengan teriakan “HALELUYA”

Tapi Indonesia dimerdekakan dengan pekik JIHAD FI SABILILLAH “ALLAHU AKBAR !”

Jihad ulama, ustadz, santri & muslim melawan penjajah penyebar ajaran “TUHAN 3 in 1″

Tapi mengapa “mereka” sekarang seolah membenci sekali Islam?

 

Bagi yang tidak percaya,,, perlu bukti,,, silahkan klik disini:

http://id.wikipedia.org/wiki/Pattimura

Posted with WordPress for BlackBerry.

Oleh: indrawidjaja | Agustus 15, 2010

perbincangan Rasulallah dengan iblis

saya akan berbagi tentang satu hadits panjang yang luar biasa dahsyat maknanya. Saya yakin cukup dengan satu hadits ini jika setiap kita membaca, menyelami dan mengamalkannya dengan baik insya Allah kita akan menjadi mukmin sejati. Tak perlu berpanjang, berikut kutipan lengkapnya.

Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”  Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?” Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Itu iblis, laknat Allah bersamanya”.

Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”. Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
 
Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin”,
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?” Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa”. “Siapa yang memaksamu? ” “Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin”.

“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh”.

Orang yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?” Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?” tanya Rasulullah.
“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang Alim dan wara’ (Loyal)”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.”
“Apa tanda kesabarannya?”
” Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang-orang yang sabar”.
“Selanjutnya apa?”
“Orang kaya yang bersyukur”
“Apa tanda kesyukurannya?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”
“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”
“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
” Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak saalat?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca Alquran?”
“Aku merasa meleleh laksana timah di atas api.”
“Jika ia bersedekah?”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”
“Taubat orang yang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar di waktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”
“Sedekah yang diam – diam.”
“Apa yang dapat menusuk matamu?”
“Salat fajar”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Saalat berjamaah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”

Manusia yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya: “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk”
“Siapa tamumu?”
“Pencuri”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan salat Jumaat”

Iblis Tidak Berdaya di Hadapan Orang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”
Iblis segera menimpali: ” tidak, tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku.
Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang saleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 anak – anaknya

Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan. Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak-anak muda, sebagian untuk menganggu orang-orang tua, sebagian untuk menggangu wanta-wanita tua, sebagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada salat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu salat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.

Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya. Mereka, anak-anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka.
Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?
Akulah mahluk pertama yang berdusta.
Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad?
Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak-anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur salat. Setiap ia hendak berdiri untuk salat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan salat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia salat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ‘salatmu tidak sah’. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam salatnya akan dipukul.

Jika ia salat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun salat seperti ayam yang mematuk beras.

Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia salat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal salatnya dan wajahnya akan diubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam salat.
Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedangan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan salat. Aku katakan padanya, “kamu tidak wajib salat, salat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau salat.”
Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan salat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari Islam?”

10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT

“Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam”
“Apa saja?”
“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba. Aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.

Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah. Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.

Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.
Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku. Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.

Allah berfirman, “Orang – orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27)

Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, “silahkan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata: “Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”

Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu membaca ayat: “mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119). Juga membaca, ” Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab: 38)

Iblis lalu berkata: ” Wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk-mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong.”

Posted with WordPress for BlackBerry.

Oleh: indrawidjaja | Agustus 10, 2010

Shalat Tarawih, antara berjema’ah dan sendiri

Bulan tinggal beberapa hari lagi akan datang. Di bulan Ramadlan, Rasulullah saw menganjurkan agar kita menghidupkan malamnya. Abu Hurairah ra. mengatakan bahwa Nabi saw. Bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَصَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang mendirikan shalat di malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (muttafaq alaih)

Imam an-Nawawi, di dalam penjelasan terhadap shahih Muslim mengatakan, “Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah).”.

Ibnu Hajar, di dalam kitab Fathul Bari, memperjelas kembali tentang hal tersebut: “Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja.”

Rasulullah saw telah memberikan contoh kepada kita dalam pelaksanaan shalat tarawih ini. Namun setelah berjalan tiga malam, beliau membiarkan para sahabat melakukan tarawih secara sendiri-sendiri, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis dari A’isyah ra.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

“Sesungguhnya Rasulullah saw pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi saw), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah saw tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau saw bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berdasarkan af’al (tindakan) nabi tersebut, para ulama’ menyimpulkan bahwa tarawih itu adalah sunnah.

Demikianlah fakta sejarah, sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam secara turun temurun mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Tetapi sayang, setelah beliau wafat, dalam melaksanakan sunnah ini terdapat perbedaan di beberapa hal yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat.

Ketika Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, ia menyaksikan kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih di Masjid Nabawi secara terpisah-pisah. Ada di antara mereka yang berjama’ah, tetapi ada pula yang shalat sendiri-sendiri. Lalu terbersit di benak Umar untuk menyatukannya.Umar memerintahkan Ubay bin Kaab dan Tamim ad-Dari untuk memimpin para sahabat melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. ‘Aisyah menceritakan kisah ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Antara Berjama’ah atau Sendirian

Memang, setelah Rasulullah saw shalat tarawih di masjid selama tiga hari, beliau selanjutnya shalat tarawih sendiri di rumah beliau. Tindakan itu, sebagaiaman sudah dijelaskan oleh Rasulullah  sendiri, adalah agar tidak memberatkan kaum muslimin. Sebab apabila beliau melakukannya terus menerus, maka akan difahami sebagai sebuah kewajiban.

Berkaitan dengan tindakan Rasulullah tidak melanjutkan shalat bersama kaum muslimin ini maka para ulama’ berbeda pendapat. Setidaknya ada dua pendapat dalam masalah ini:

Pendapat pertama; Shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah pendapat Imam asy-Syafi’i dan sebagian besar sahabatnya, juga pendapat Abu Hanifah dan Imam Ahmad, serta sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan pendapat ini pula yang dipegang Syaikh Nashiruddin Al-Albani, beliau berkata: “Disyariatkan shalat berjamaah pada qiyam bulan Ramadhan, bahkan dia shalat tarawih dengan berjamaah lebih utama daripada dilaksanakan sendirian…”

Pendapat kedua, yang utama adalah dilaksanakan sendiri-sendiri.

Pendapat kedua ini adalah pendapat Imam Malik dan Abu Yusuf serta sebagian pengikut Imam Asy-Syafi’i.

Adapun dasar masing-masing pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

1- Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra di atas: Di dalam hadis yang panjang tersebut ada ungkapan;

فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ

Maka para shahabat shalat bersama dengan shalat beliau saw

Di dalam ungkapan ini teremuat maksud bahwa para shahabat saat itu shalat berjama’ah bersama Rasulullah saw.

2. Hadits Abu Dzar ra beliau berkata, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya seseorang apabila shalat bersama imam sampai selesai maka terhitung baginya (makmum) qiyam satu malam penuh.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Hadits ini dinyatakan sebagai hadis shahih oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Berkenaan dengan hadits di atas, Imam Ibnu Qudamah di dalam kitab al-Mughni mengatakan: “Dan hadits ini adalah khusus pada qiyamu Ramadhan (tarawih).”

Syaikh Al-Albani berkata: “Apabila permasalahan seputar shalat (tarawih) yang dilaksanakan pada permulaan malam secara berjamaah dengan shalat (yang dilaksanakan) pada akhir malam secara sendiri-sendiri maka shalat (tarawih) dengan berjamaah lebih utama karena terhitung baginya qiyamul lail yang sempurna.”

3- Perbuatan ‘Umar bin Al-Khaththab dan para shahabat lainnya, ketika ‘Umar bin Al-Khaththab melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan, maka sebagian mereka ada yang shalat sendirian dan ada pula yang shalat secara berjamaah kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jamaah dan dipilihlah Ubay bin Ka’b sebagai imam

Adapun Dalil pendapat kedua:

1- Hadits dari Zaid bin Tsabit yang menceritakan bahwa Rasulullah saw tidak shalat tarawih di masjid, lalu beliau menjelaskan persoalannya dan bersabda:

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

“Wahai manusia, shalatlah di rumah kalian! Sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat yang diwajibkan.” (al-Bukhari)

Berdasarkan hadis inilah mereka berpendapat bahwa shalat tarawih yang dilaksanakan di rumah dengan sendiri-sendiri dan tidak dikerjakan secara berjamaah lebih utama.

2. Atsar yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abdul Qari, ketika Umar menyatukan shalat tarawih dalam satu jama’ah, lalu Umar mengatakan,

وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

Dan yang tidur dengan meninggalkan jamaah tarawih lebih utama dari yang melaksanakannya secara berjama’ah, karena ia menginginkan shalat di akhir malam. Tetapi orang-orang memilih untuk melaksanakan tarawih di awal malam dengan berjama’ah (al-Bukhari)

Berdasarkan penjelasan dan argumentasi masing-masing pendapat, kita bisa melihat bahwa pada masing-masing pendapat ada kelebihan. Pendapat pertama memiliki beberapa kelebihan, antara lain

1. Nilai shalat berjama’ah. Di sini pun berlaku hadis yang menerangkan keutamaan shalat berjama’ah, dilipatgandakan 25 kali lipat.

2. Shalat Tarawih bila dilaksanakan secara berjama’ah akan menampakkan syi’ar Islam.

3. Karena shalat berjamaah yang dipimpin seorang imam lebih mendorong semangat bagi umumnya kaum muslimin.

Sedangkan pendapat kedua juga memiliki kelebihan; yaitu keutamaan ibadah di akhir malam, sebagaimana dijelaskan di dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah;

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, “Siapakah yang berdo’a kepadaKu maka akan aku kabulkan baginya. Siapa yang meminta kepadaKu akan Aku berikan kepadanya. Siapa yang memohon ampunan kepadaKu maka akan aku ampuni dia (Muttafaq ‘alaih)

Jika kita ingin mencari keutamaan yang paling baik, maka shalat tarawih secara berjama’ah pada sepertiga malam terakhir. Tetapi cara seperti ini tentu sangat berat untuk dilakukan oleh kaum muslimin. Jangankan bangun untuk qiyamul lail, untuk makan sahur saja terkadang terlambat.

Islam bukanlah agama yang mengajarkan kesulitan. Tetapi jika mampu melakukan suatu amalan yang mengandung kesulitan, maka Allah akan memberikan keutamaan. Namun jika tidak sanggup, maka harusnya kita mencari kautamaan lain yang lebih mudah untuk dicapai. Bila untuk melaksanakan shalat Tarawih dengan berjama’ah pada sepertiga malam terakhir adalah sebuah kesulitan, maka Rasulullah pun memberikan jalan keluar, bahwa tarawih dengan berjama’ah meski di awal malam, apabila dari awal hingga akhir dilakukan bersama dengan imam, juga memiliki keutamaan sebagaimana telah melsanakan qiyamul lail secara sempurna, sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah di dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar di atas.

Oleh: indrawidjaja | Juni 2, 2010

Sepuluh taktik pemurtadan

Semua orang telah mafhum, agama Kristen adalah agama misi. Tentang hal ini diterangkan dalam kitab Bibel. “Kata Yesus: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku doa baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19)

Dalam kitab Bibel itu juga, orang-orang Kristen dihalalkan menempuh berbagai cara seperti menipu, pura-pura, berbohong dan lainnya agar tujuan misi tercapai. “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih sayang karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20)

Berpegang pada dua dalil itu, tak heran jika umat Kristiani sangat giat menyebarkan misi kristenisasi ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia.

Mereka pun tak sungkan-sungkan menjalankan cara-cara yang keji, curang dan menjijikan kepada umat lain. Meskipun aturan tentang penyebaran agama telah dibuat, namun orang-orang Kristen tak pernah mau tunduk. Bahkan, Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang tata cara penyebaran agama di Indonesia, sering dilanggar.

Untuk itu, tak ada salahnya kita mengetahui cara, strategi dan taktik yang dikembangkan mereka dalam memurtadkan kaum muslimin. Di bawah ini dijelaskan beberapa taktik, strategi dan cara itu.

1. Pemurtadan dengan cara kawinisasi.

Sasaran utama gerakan pemurtadan ini, kebanyakan para muslimah. Untuk menikah, seorang pria Kristen biasanya pura-pura masuk Islam. Setelah menikah, pria itu lalu mengajak pindah ke agama Kristen. Seperti perbuatan yang dilakukan Agus (nama samaran) kepada Dona (nama samaran). Untuk menikahi Dona, Agus, pura-pura masuk agama Islam. Setelah nikah dan dikarunia satu orang anak, Agus memaksa Dona pindah ke agama Kristen. Meskipun sempat tergoncang, namun akhirnya Dona mampu lepas dari jebakan busuk Agus.

2. Pemurtadan dengan cara diculik, dihamili dan dimurtadkan.

Sasaran utama cara ini kebanyakan juga para muslimah. Hampir mirip dengan cara pertama, bedanya cara ini lebih kasar dan keji. Para muslimah langsung diculik, disekap, diperkosa kemudian dibaptis. Selain itu, otak para muslimah itu pun dicuci lantas dijejali doktrin Kristen hingga akhirnya ia membenarkan ketuhanan Yesus. Contohnya kasus penculikan, pemerkosaan dan pemurtadan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang, Khairiyah Anniswah alias Wawah yang sempat membuat heboh kota Padang beberapa waktu lalu. Setelah diculik, Wawah diberi obat perangsang lalu diperkosa oleh seorang aktivis Kristen. Karena tak berdaya, Wawah akhirnya di bawa ke gereja dan dibaptis.

3. Pemurtadan dengan cara menjanjikan pekerjaan, kursus atau beasiswa.

Sasaran tembak mereka biasanya muslim dan muslimah lulusan SMP/SMU yang mengalami kesulitan mencari pekerjaan atau kepada mereka yang tak mampu. Para aktivis gereja biasanya langsung menjanjikan sebuah pekerjaan dan beasiswa secara gratis asal mau pindah agama. Seperti yang dialami Heryanto. Pemuda yang sehari-hari mengajar ngaji anak-anak di Manado itu, ditawari Edi Sapto pekerjaan dan beasiswa kuliah di Jakarta. Sampai di Jakarta, pekerjaan yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung datang. Heryanto malah dipaksa pindah agama Kristen dan diwajibkan mengikuti acara gereja dan kebaktian. Kini Yayasan Dian Kaki Mas yang dijadikan tempat pemurtadan itu, sedang digugat warga dan aparat pemerintah setempat. Karena mereka merasa telah ditipu yayasan Dian Kaki Mas. (Lihat tulisan Babak Baru Pemurtadan).

4. Pemurtadan berkedok kemanusiaan di desa-desa terpencil.

Cara pemurtadan seperti ini dilakukan kepada orang-orang tak mampu sambil memberi sejumlah makanan pokok dan keperluan sehari-hari seperti beras, mie instant, gula, minyak, pakaian, obat-obatan dan lainnya. Bantuan itu terus dilakukan, sampai mereka merasa tergantung. Setelah orang-orang tergantung, mereka baru mengatakan bahwa bantuan ini datang dari Tuhan Yesus, kalau mau terus mendapatkan bantuan, mereka harus pindah ke agama Kristen. Pemurtadan seperti ini banyak dijumpai di daerah-daerah terpencil dan miskin seperti Gunung Kidul Yogyakarta, Klaten, Kalimantan dan lainnya.

5. Pemurtadan berkedok ulama atau keluarga ulama.

Modusnya, seorang aktivis Kristen mengaku-ngaku sebagai mantan ustad atau keluarga ulama terpandang yang kemudian murtad. Tujuannya, untuk meragukan keyakinan umat terhadap Islam dan selanjutnya membenarkan doktrin Kristen. Kasus ini pernah terjadi di Padang beberapa waktu lalu. Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah mengaku-ngaku sebagai adik kandung Buya Hamka. Karena ulah pendeta Willy, tak sedikit yang percaya dengan kesaksiannya. Namun, setelah diteliti, ternyata Pendeta Willy bohong besar. Salah seorang putra Hamka menyatakan sepanjang hayatnya, ia tak pernah mempunyai paman yang bernama Willy Abdul Wadud Karim Amrullah.

6. Pemurtadan dengan cara penyebaran narkoba.

Narkoba dan obat-obat terlarang lainnya disebar mereka ke para pemuda baik ke anak SD, SMP, SMU bahkan sampai mahasiswa. Mereka terus menjejali obat haram tersebut hingga para pemuda harapan bangsa ini menjadi tergantung dengan obat-obatan itu. Kalau sudah demikian, para pemuda itu dimasukkan ke tempat rehabilitasi untuk disembuhkan dari ketergantungan obat. Di tempat rehabilitasi itulah, para pemuda yang kecanduan obat itu dicuci otaknya, dimasukkan doktrin-doktrin Kristen.

7. Kristenisasi terselubung dengan mendirikan sekolah-sekolah teologi.

Sekilas lalu, sekolah-sekolah teologi ini memang tak ada masalah. Kegiatan belajar-mengajar tak jauh beda dengan sekolah-sekolah tinggi lainnya. Tapi, sejumlah pihak menyakini kristenisasi dijalankan secara terselubung. Mereka mencontohkan Sekolah Tinggi Apostolos. Namun, pengurus STT itu sendiri membantah adanya program kristenisasi. Tapi, kalau dicermati lebih mendalam, dugaan adanya kristenisasi terselubung itu ada. Konsentrasi STT Apostolos, pada studi islamologi dengan jumlah mata kuliah sebanyak 36 SKS. Meliputi mata kuliah Pengantar Studi Islam, Studi al Qur’an, Studi al Hadits, Filsafat Islam dan lainnya. Bahkan, mereka juga mengundang sejumlah dosen berbagai perguruan tinggi agama Islam. Seiring tujuan STT Apostolos untuk mencetak pemimpin gereja masa depan yang mampu berdialog dengan dunia Islam, sejumlah pihak menilai ada upaya lain untuk mengorek kelemahan Islam terutama al Qur’an dan al Hadits.

8. Pemurtadan melalui surat-surat atau korespondensi.

Kristenisasi ini dilakukan melalui surat-menyurat. Surat itu berisi sebuah buletin, mirip seperti buletin Islam yang sering dibagikan setiap shalat Jum’at. Isinya membahas masalah perbandingan agama dengan menitikberatkan pada pemutarbalikan tafsir al Qur’an dan al Hadits. Dari ulasannya terkesan sekali mendukung doktrin ketuhanan Yesus. Biasanya, surat itu hanya mencantumkan kotak pos. Menurut Sekjen FAKTA, Abu Deedat, kristenisasi dengan gaya korespondensi ini bertujuan mendangkalkan akidah umat Islam. Contohnya buletin “Habari Lo Ilomata”. Setiap terbit, buletin ini mencoba mengaburkan keyakinan umat Islam dengan cara membuat pertanyaan-pertanyaan yang menggiring untuk mendukung ketuhanan Yesus. Pada terbitan Ilomata edisi nomor 11 tahun 2001, dikutip ayat al Qur’an Surah an Nur ayat 34, “Dan sungguh kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang menerangkan dan sebagai perumpamaan dari mereka yang terdahulu sebelum kamu .”, dari situ dibuatlah pertanyaan-pertanyaan yang menggiring umat untuk mengakui kebenaran Yesus. Pertanyaan itu, antara lain, kitab suci mana yang dimaksud, yang menerangkan tentang orang-orang terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw? Kemudian bagi mereka yang berhasil menjawab benar, akan disediakan hadiah berupa Kitab Suci Injil. Tak hanya buletin Ilomata, buletin serupa yang banyak beredar di tengah-tengah masyarakat misalnya brosur “Rahasia Jalan ke Surga”, “Membina Kerukunan Umat Beragama”, atau brosur-brosur Shirathal Mustaqim seperti “Keselamatan”, “Siapakah yang Bernama Allah”, “Stop”, “Injil Barnabas”.

9. Pemurtadan dengan cara menerbitkan buku-buku Kristen tapi berkedok Islam.

Menurut Tim Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA), ada dua target yang akan dicapai dari penerbitan ini. Pertama, target ke dalam, untuk meneguhkan ajaran Kristen seolah-olah ajaran kristenlah yang paling benar. Kedua, target ke luar, untuk mengelabui umat yang masih dangkal pemahaman agamanya agar mau membaca buku-buku itu kemudian membenarkan ketuhanan Yesus. Mereka menyakini, umat Islam tak terlalu curiga terhadap misi mereka. Pendeta-pendeta Kristen sangat produktif membuat buku-buku seperti ini. Puluhan bahkan ratusan buku saat ini disinyalir beredar ke tengah-tengah masyarakat seperti buku karya H Amos alias Poernama Winangun “Upacara Ibadah Haji”, “Isa as dalam Pandangan Islam”, “Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan nabi Muhammad Saw”, atau karya Danu Kholil Dinata seperti “Kristus dan Kristen di Dalam al Qur’an”. Dan “Jawaban Atas Buku Bibel, Qur’an dan Science”, Dialog Tertulis Islam-Kristen” karya Hamran Amrie.

10. Pemurtadan dengan meniru dan memakai idiom atau atribut Islam.

Pemurtadan dengan memakai atribut, dan idiom Islam tak asing lagi di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Jakarta, Minang, Sunda dan lainnya. Tujuannya, agar kaum muslimin meragukan ajaran Islam dan mau mengakui kebenaran doktrin Kristen. Di Kampung Sawah misalnya orang-orang Kristen sudah terbiasa memakai atribut Betawi yang identik dengan Islam. Laki-lakinya mengenakan kopiah dan sarung seperti orang Betawi saat menjalankan shalat. Begitu juga yang perempuan, memakai kerudung mirip none betawi habis pulang ngaji. Lain lagi di daerah jawa tengah, mereka meniru adat kebiasan Islam seperti tahlilan, mengucapkan assalamu’alaikum, pakai kopiah dan lainnya.

nah sudahkah lingkungsn kita menjadi korban…? lingkungan keluarga kita…? atau teman teman kita…?

atau bahkan mungkin kita sendiri pernah atau masih menjadi korban…? akan tetapi kita terlalu asik untuk “cuek” atau “masa’ bodo’ ” dengan apa yang sedang kita alami……?

jadilah manusia yang pintar, jangan jual aqidah mu demi sesuatu yang bersifat sementara, bersikap, dan berfikirlah dewasa, jadilah bijak dalam mengambil keputusan. semoga Allah senantiasa melindungi kita, amin

Oleh: indrawidjaja | Mei 12, 2010

teknologi es yang membelah besi

Teknologi Mahacanggih Memotong Besi Dengan Air, Besi membelah es itu biasa. Memotong besi dengan goresan es: baru luar biasa.oleh: Abu AmmarPengalaman langka, sejarah, ataupun peristiwa besar yang terjadi di Eropa menjadi warna tersendiri di pengajian warga Indonesia di Jerman. Sebut saja pengajian muda mudi muslim Indonesia di bulan April 2010 yang baru saja berlalu, dan dikisahkan sebelumnya di Hidayatullah. Com (baca: “Siapakah Yang Menciptakan Allah?”).

Tenggelamnya si anti-tenggelamPengajian yang diselenggarakan di masjid yang dikelola Indonesisches Islamisches Centrum e.V. itu bertepatan dengan bulan peringatan ulang tahun ke-98 pelayaran perdana sekaligus pelayaran terakhir kapal Titanic. Kisah tragis tenggelamnya kapal Titanic sengaja diketengahkan sang pembicara dalam pengajian itu karena sejumlah pesan Ilahi yang bisa diambil sebagai pelajaran berharga darinya.

Titanic diluncurkan pada tanggal 10 April 1912 untuk pelayaran pertamanya beserta tak kurang dari 2200 penumpang berikut sang awak kapal. Pelayaran yang dimulai dari pelabuhan Southampton, Inggris, menuju kota New York, AS, itu berakhir mengenaskan setelah menyerempet gunung es di perairan Atlantik di malam hari 14 April 1912. Dalam 2 jam 40 menit kemudian, tepatnya pukul 2:20 dini hari 15 April 1912, salah satu sarana perhubungan manusia paling canggih kala itu pun diberitakan tenggelam.

Sebagaimana kisah tentang pesawat terbang sebelumnya (baca: “Kisah Tuhan di Pesawat Terbang”) ada hal menarik terkait kapal Titanic yang pembuatannya memakan waktu selama sekitar 2 tahun ini. Kapal ini dilengkapi teknologi bilik kedap air yang membatasi masuknya air di saat kecelakaan terjadi, dan karenanya dijuluki ‘’practically unsinkable’’ yang berarti ‘’praktis tak dapat ditenggelamkan’’ atau ‘’tahan tenggelam’’.

Namun kapal raksasa ini, yang termasuk teknologi maritim tercanggih karya manusia kala itu, menemui ajalnya dalam usia 5 hari saja. Ini jauh lebih pendek dari umur normal seekor lalat buah mungil. Kapal besar berukuran sekitar 260 m panjang x 28 m lebar yang katanya tahan tenggelam itu justru jatuh ke dasar samudra Atlantik dalam waktu singkat. Bersamanya, lebih dari 1000 penumpangnya tewas tenggelam di lautan dingin nan kelam.

Bukan kebetulan belakaTak sebutir debu pun terbang di dunia ini secara kebetulan. Artinya, semua kejadian, kecil atau besar, ada karena kesengajaan dan kehendak Allah SWT, sehingga sudah pasti ada hikmah besar di balik setiap peristiwa itu. Demikian pula Titanic. Sudah mutlak pasti ada banyak pelajaran berharga yang diwariskannya. Betapa kapal yang digembar-gemborkan tak dapat ditenggelamkan itu justru terbelah dan terkubur di dasar laut pasca tersayat oleh gunung es.

Yah, seolah sang Pencipta hendak mengingatkan sesiapa saja yang pernah mendengar kisah itu bahwa takkan ada karya buatan manusia secanggih apa pun yang mampu mengalahkan Maha Karya Allah Yang Maha Pencipta: air. Es, alias air beku, yang terlihat sangat sederhana itu, ternyata jauh lebih digdaya dibandingkan kapal Titanic yang diakui canggih tersebut.

Kapal raksasa besi nan kokoh itu ternyata tidak ada apa-apanya ketika disenggol oleh gunung es ! Jika manusia selama ini biasa memotong es dengan besi, maka Allah secara luar biasa justru melakukan kebalikannya : menjadikan besi sedahsyat kapal Titanic terbelah justru dengan es ! Kapal Titanic tidaklah menabrak gunung es berhadap – hadapan. Allah sekedar membiarkan kapal Titanic tergores oleh permukaan gunung es di sisinya, searah dengan panjangnya, tanpa perlu memotongnya melintang.

Hebatnya lagi, sang gunung es itu tidak dibentuk menyerupai pisau tajam, namun mampu menggores sang kapal di titik mematikan. Goresan itu cukup untuk memenggal Titanic menjadi dua potongan dan menjerembabkannya ke dasar samudra Atlantik dalam waktu singkat.

Pendek kata, ciptaan Allah berupa gunung es-lah yang “truly unsinkable”, yang benar – benar tak dapat ditenggelamkan oleh ombak sedahsyat apapun, termasuk oleh hantaman besi secanggih Titanic sekalipun. Sebaliknya, sang “practically unsinkable” Titanic-lah yang malah terkapar di dasar samudra setelah dirobek oleh es. Gelar Titanic “practically unsinkable” tak lebih dari isapan jempol belaka.

Kisah itu bak menasihati manusia, bahwa tidaklah patut baginya memberi gelar berlebihan atau menjadi terlampau bangga atas karyanya sehingga melampaui batas. Menggembar – gemborkan dan terlampau mempercayai Titanic sebagai “

tahan tenggelam” sungguhlah berlebihan dan terdengar bak ungkapan kesombongan. Dan Allah tidak membiarkan kesombongan hamba-Nya yang melampaui batas begitu saja di muka bumi.

Titanic dan Nyai Roro KidulSang penceramah di pengajian itu mengisahkan Titanic sembari berdialog, berdiskusi dua arah, dan menyelingi tanya jawab dengan peserta pengajian yang masih belia itu. Peserta tampak serius mengikutinya. Sungguh inilah barangkali cara penyajian yang tepat bagi muda-mudi metropolis jaman sekarang.

Tak dapat dibayangkan, betapa membosankan andai pengajian itu dijejali dengan banyak ayat Al Qur’an dan Hadits melulu dan satu arah, tanpa memberi kesempatan kepada pendengar untuk sering aktif mengemukakan pendapat. Apalagi jika sampai si penceramah mudah menghardik peserta yang pertanyaannya terdengar aneh-aneh itu, sebagaimana diterbitkan sebelumnya di hidayatullah. com (baca: “Tidak Mungkin Menemukan Agama Paling Benar !”)

Apa yang dipaparkan sang penceramah waktu itu mungkin akan lebih menarik, jikalau sejarah asal usul nama Titanic dibahas pula. Titanic berasal dari keyakinan legenda kuno Yunani yang meyakini bahwa alam semesta-lah yang menciptakan Tuhan – Tuhan yang jamak, dan bukan sebaliknya. Titans, jamak dari Titan, adalah Tuhan – Tuhan generasi pertama yang merupakan keturunan dari tuhan bumi Gaia yang berkelamin wanita.

Jadi jika dikaitkan namanya, Titanic ibarat sesosok teknologi angkutan laut supercanggih yang diberi nama Tuhan dan bergelar tak tertenggelamkan. Namun kenyataannya, kapal Titanic bukanlah sesosok Tuhan, dan bukan pula bergelar ‘’

tak dapat ditenggelamkan’’. Kapal Titanic adalah raksasa besi yang ternyata lemah tak berdaya di hadapan ciptaan Allah yang tak kalah canggihnya:

gunung es.

Di tengah-tengah paparannya tentang Titanic, sang penceramah pun berseloroh bahwa di masyarakat yang mengelu-elukan teknologi, mahakarya digdaya seperti Titanic disanjung bak Tuhan. Sebaliknya, di masyarakat yang jauh dari teknologi dan masih banyak mempercayai takhayyul dan klenik seperti di Jawa, maka yang disanjung-sanjung adalah dedemit atau makhluk halus dan dituhankan seperti Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. Namun sejatinya baik sang dewa samudra kapal Titanic dan si dewi laut selatan Nyai Roro Kidul, keduanya bukanlah Tuhan, dan tidak semestinya digelari berlebihan, apalagi menyamai sifat Tuhan.

Mengulang sejarah Fir’aunDalam pengajian muda-mudi Hamburg itu, penceramah terlihat sengaja mengarahkan agar para peserta pengajian turut aktif mengemukakan pendapatnya. Usahanya tidak sia-sia, pengajian itu tampak hidup dan peserta tidak canggung berlomba untuk turut melontarkan pertanyaan, jawaban, atau pun pengalamannya sendiri. Mereka tampak bersemangat menyimak kisah Titanic itu.

Bagi sebagian orang, tragedi Titanic mungkin tak perlu dikaitkan dengan pesan moral, tidak usah disentuhkan dengan urusan agama, atau tak ada gunanya dipautkan dengan kehendak Tuhan. Namun, jika seseorang meyakini Allah sebagai Tuhan yang tidak pernah tidur, lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dan yang memiliki kehendak luhur di setiap detik peristiwa apa pun di jagat raya ini, maka sudah sepatutnya mengambil pelajaran ilahiah berharga dari kecelakaan maritim akbar abad ke-20 itu.

Ini karena Allah sudah pasti sengaja menenggelamkan kapal itu, agar manusia yang datang di kemudian hari mengambil pelajaran darinya. Tidak ada peristiwa sekecil apa pun yang luput dari kesengajaan dan kehendak agung sang Pencipta peristiwa itu, Allah SWT, kecuali dengan suatu tujuan mulia.

Penceramah mengaitkan kisah Titanic dengan Fir’aun, yang menyatakan dirinya sebagai Tuhan yang maha tinggi, sebagaimana diabadikan Al-Quran :

 

” Tetapi Firaun mendustakan dan mendurhakai, Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa), Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarn ya) lalu berseru memanggil kaumnya.  Akulah Tuhanmu yang paling tinggi’’. [QS. An Naazi’aat, (79) : 24] 

serta penguasa sungai dalam perkataannya:

 

Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai -sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya)? [QS. Az Zukhruf, (43) : 51]. 

Namun kesombongan Fir’aun yang mengaku Tuhan maha tinggi dan sang penguasa sungai-sungai itu sirna dengan ditenggelamkannya di laut merah.

Kapal Titanic berukuran raksasa dan tinggi yang namanya berasal dari Tuhan Titan, serta Fir’aun yang mengaku Tuhan yang Maha tinggi, keduanya dibinasakan di tempat Maha Rendah di muka bumi: dasar lautan. Fir’aun yang mengaku penguasa sungai-sungai, serta kapal Titanic yang dinyatakan tahan tenggelam, keduanya bernasib naas dikuasai lautan, alias tenggelam di dalam air.

Peringatan bagi manusiaPengulangan kisah Fir’aun pada kapal Titanic sudah pasti bukan peristiwa kebetulan, namun sebagai sunnatullah, yang berlaku bagi sesiapa saja yang melampaui batas yang telah diperingatkan Allah. Sebagaimana ketentuan yang telah digariskan menyusul pernyataan sombong Fir’aun sebagai Tuhan yang mahatinggi, “maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia

  Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. [QS. An Naazi’aat, (79) : 25].Dengan peristiwa Titanic itu, yang karam pasca menyerempet gunung es, manusia hendaknya tersadarkan bahwa pencapaian teknologi maritim sehebat apa pun takkan pernah mengungguli ciptaan Allah berupa es, wujud beku air, sang anti-tenggelam yang sejati. Kenapa? Sederhana saja, ribuan tahun sejarah manusia tak pernah tercatat bahwa manusia mampu menciptakan air. Sejarah dipenuhi oleh kapal-kapal yang tenggelam, tapi bukan es yang karam.

Bahkan manusia, termasuk Fir’aun dan para insinyur perancang kapal Titanic, sangat bergantung pada air dan tidak mungkin bisa hidup jika saja air dilenyapkan oleh Allah seketika. Fir’aun tak bakal mengaku penguasa sungai, dan kapal Titanic takkan digelari anti-tenggelam, jika air tidak pernah diciptakan Allah dalam bentuk sungai dan lautan.

Kapal Titanic dan sungai-sungai yang mengalir di wilayah kekuasaan Fir’aun bukanlah pertanda kedahsyatan sang kapal, bukan pula kemahatinggian Fir’aun. Tapi, keduanya merupakan tanda-tanda kehebatan penciptaan air. Air adalah sebentuk mahakarya luar biasa Allah, Pencipta tanpa tara. Manusia sepatutnya mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, dan tidak membanggakan karyanya maupun dirinya di hadapan-Nya.

Sungai-sungai dan kapal Titanic sepatutnya digunakan sebagai sarana berdakwah kepada manusia, untuk menyadarkan masyarakat luas bahwa keduanya terjadi karena kekuasaan Allah semata :

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. [QS. Ibrahim, (14) : 32)

Manusia hendaknya mengambil pelajaran berharga dari tragedi Titanic, jika tidak maka pasti berlakulah ketetapan Allah, sebagaimana yang menimpa Fir’aun dan orang-orang sombong melampaui batas sepeninggalnya. Siapa pun yang sombong melampaui batas, maka Allah tidak akan membiarkannya begitu saja di dunia ini. Sunnatullah yang berlaku atas Fir’aun, Qarun, dan Haman, akan berlaku pula pada orang-orang sepeninggalnya, tak terkecuali mereka yang terkait dengan tragedi Titanic :

 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakan- Nya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar (dari mereka). Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat (kekuasaan) Kami mengetahui bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan). Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal. [QS. Asy Syuuraa, (42) : 36]

Sumber : http://www.hidayatullah.com dikisahkan langsung oleh Abu Ammar dari Hamburg, Jerman

Tulisan Sebelumnya »

Kategori